Cerita ini singkat, bermakna, tapi sulit mengartikan dan diartikan. Jadi, begini.....(Sebelum itu, apa yang ada disini, bisa fiksi, bisa non fiksi, jelas pelakon dalam cerita ini tentu samaran).
Ada seorang cowok sebutlah ia Kaka. dan seorang cewek sebutlah ia Kika. mereka satu kampus dan pekenalan mereka bisa dikatakan singkat. Perkenalan yang dipertemukan didalam sebuah perkumpulan. Meskipun mereka berjarak 1 tahun, dengan Kaka yang lebih tua, tidak menyurutkan mereka untuk berteman.
Dalam setiap acara yang diadakan perkumpulan tersebut, Kaka merasa nyaman dengan Kika yang selalu menjadi peran penting dalam acara itu. (Engga tau sih penting apa engga, katanya si Kaka sih gitu) hehehe.... Kaka yang tadinya bersikap cuek dan sedikit angkuh dengan Kika, mulai luluh dengan segala kebaikan Kika. Siapa orang yang tidak terpesona dengan baiknya orang lain?
Kaka mulai merasa nyaman dengan segala keadaan dimana ia bersanding dengan Kika, dan sedia setiap saat ketika Kika membutuhkannya. Mungkin Kika bukan cewek pertama yang pernah ia sukai. Tapi Kaka memandang Kika dengan berbeda, Kika seorang cewek yang beda menurutnya, Entah dalam hal apa. (Gue ngga tau, ini cuma cerita).
Kaka merasa senang karena merasa Kika memberikan feedback baik padanya. seolah Kika menerimanya dalam hidupnya. Saat itu, Kaka hanya tenggelam dalam perasaannya dan tidak sadar bahwa dirinya tengah berada di laut yang penuh gelombang. Bertahan ditengah derasnya ombak dan badai, yang hampir ditenggelamkan oleh karang. Dirinya terlalu terbawa suasana dan tidak menyadari bahwa Kika adalah orang yang disukai banyak orang, (gue juga gatau siapa, ini cuma cerita). Kenyataan pahit harus diterimanya ketika ia mengetahui bahwa Kika bersikap sama pada orang lain yang Kika lakukan padanya.
Tapi, lagi-lagi Kaka buta akan cinta. Pandangannya tentang Kika yang berbeda membuatnya tetap bodoh menyebrangi laut yang deras akan ombak dan badai tanpa pelampung. Kali ini, dia mencoba melewati terjangan itu untuk sampai ke pulau (Kika), dengan membuatkannya satu hal yang berbeda. Satu hal yang diinginkan Kaka pada Kika, yaitu memberi tahu perasaannya yang sebenarnya.
Berkali-kali Kaka mencoba mengutarakan apa isi hatinya. Tapi kembali tidak bisa karena tertahan suatu hal. Kaka orang yang kurang berani untuk menyatakan perasaannya, walau itu menggebu. Karena sikapnya yang seperti itulah, ia juga harus merasakan 'sakit' ketika melihat Kika bersama dengan orang lain... entah siapa orang itu.
Kaka tenggelam........(Untung bukan tersesat ya, Butiran Debu abis, diganti jadi Butiran Laut? Butiran Karang, hahaha). Ia mencoba mencari apapun yang bisa menyelamatkannya dari tenggelam itu. Dia berusaha berenang walaupun ia tidak bisa (maksudnya, Ia mencoba melupakan Kika, walaupun itu tidak bisa). Di tengah mengapung dirinya dilaut.......eh bentar, kenapa jadi bahas laut. Ini cerita apa dongeng perlautan sih.
Balik, ditengah dirinya berusaha untuk melupakan Kika, dirinya ditemukan oleh seorang peri.. ihiw. Bukan peri juga sih. Neptune mungkin? (GAK TAU). Ia menceritakan segala nya pada (sebut saja) Neptune, dan Neptune memberikan saran-saran terbaiknya pada Kaka. Mario Teguh pun lewat.
Kaka sudah mulai bisa perlahan untuk melepaskan perasaannya yang sungguh terikat dengan cewek yang dipandangnya berbeda. Kenyataan yang tidak mendukungnya pada sebuah 'Keterikatan', membuatnya melek media.... Gagal Fokus. Melek dari kebutaannya, atau sadar dari komanya. Setelah bisa berusaha, dirinya harus dan memang harus bertemu dengan Kika. Ingatannya mulai kembali... (Seperti tokoh dalam sinetron yang lupa ingetan terus inget lagi gara-gara ketemu) -.-
Kaka melihat sesuatu pada Kika yang membuatnya sungguh sakit. Kali ini bukan karena dia bersama orang lain, melainkan Kika harus mengingatkannya pada sebuah kenangan. Kenangan itu berbentuk cinderamata yang sangat ia ingat bahwa itulah yang pernah diberikannya pada Kika. Mungkin Kika tidak pernah menyadari itu, menyadari semua yang dirasakan Kaka ... Karena Kaka juga tidak pernah mengungkapkan, Ia tidak ingin Kika menciptakan sebuah jarak ketika Ia tau apa yang sebenarnya.
Dalam hati Kaka selalu berkata, "Egoisku, menginginkannya akan ku buang jauh-jauh daripada harus kahilangannya, kelak, karena Ia tau perasaanku. Perasaan yang mungkin dianggapnya BIASA. sekali lagi, BIASA". Kaka hanya bisa merasakan, memendam, dan mengubur, Memang senang ia rasakan ketika bersama Kika. Tapi itu hanya sementara...
Pernah Kaka bertanya pada Kika tentang hal berkaitan dengan perasaannya, tapi dengan pengandaian yang sebenarnya itu adalah kasusnya, ceritanya. Mendengar jawaban Kika, Kaka semakin terpuruk karena merasa bisa memilikinya. Sampai pada akhirnya, Kaka kembali sadar, walau dirinya tidak bisa memilikinya, Ia ingin Kika hanya mengetahuinya.. Tanpa berharap lebih, tanpa berharap apapun. (Walaupun gue tau hati kecilnya yang paling dalam ngga munafik pasti mau, tetap mau)....
Kika penasaran dengan apa yang selalu Kaka tanyakan. Kika hanya merasa Kaka curhat, Ia memiliki sedikit kepekaan sehingga menurutnya itu adalah cerita biasa, dan itu memang cerita orang lain, padahal.....tidak.. Kaka selalu menyembunyikan perasaannya dan selalu menghindar dari kenyataan bahwa dirinya masih memperhatikan DIA. dan hanya berusaha untuk menetralisir bahkan menghilangkan perasaannya, mungkin?.................
Kaka berkata dalam hatinya :
"Jangan pernah tanya lagi siapa yang aku sayang"
"Jangan pernah tanya lagi siapa yang aku galaukan"
"Jangan pernah tanya lagi siapa yang aku andaikan"
"Jangan pernah tanya lagi SIAPA"
"Kalau kamu benar-benar menyimak dan mengerti apa yang pernah Aku berikan Padamu"
Kaka hanya bisa memendam kata-kata itu.Tanpa berkata pada Kika.
"Kata-Kata yang sulit diungkap, dan terungkap.... "
Kaka yang menyukai musik, dan pandai membuat lagu, sudah menyiapkan lagu untuk cewek idamannya itu. Dan ia berjanji, ketika lagu sudah tersusun rapi dengan lantunan nada yang indah, Kika lah orang pertama yang akan didengarkannya.....
Namun baginya, melihat senyum Kika akan bahagianya, sudah cukup untuk Kaka. Dan entah Kaka harus tetap maju, atau b e r h e n t i ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar