Hi.. ini adalah hari ke-x aku memperhartikannya. Memperhatikan dia yang mempunyai senyum yang manis, mata yang indah, dan ciri khas yang ia miliki (hahaha dialog RGFM banget lagi nih?) Engga, ini betulan. Mungkin aku adalah orang yang bodoh karena buta akan keindahannya. Buta akan rasa permen karet yang ujungnya selalu pahit. Tapi aku juga tidak tau harus berhenti mengunyah permen karet itu kalau rasa manisnya bahkan semakin terasa.
Aku berusaha untuk jujur pada diriku sendiri apakah iya, aku mempunyai rasa sebesar itu? terkadang naluri ku berkata iya, tapi terkadang pun tidak. Aku mengiyakan memang ketika berada didekatnya, aku merasakan senang dan nyaman. dan ketika aku bilang tidak, kondisi itu ketika aku melihatnya bersama orang lain,aku mungkin jelous, tapi aku berfikir ada kah hak aku untuk seperti itu? sementara dirinya entah mengetahui atau tidak.
Kamu yang disana? Tau kah? rasa ini terlalu besar untukmu, terlalu berat untuk aku lupakan begitu saja. terlalu berlebihan. Tapi kamu tidak pernah menyadari itu bukan? tidak pernah mengerti? tidak pernah bisa mengerti apa rasanya ketika aku melihatmu dengan orang lain. ketika mendengar cerita tentangmu bersama orang lain? ketika aku berusaha untuk sabar menahan rasa gundah ketika aku tidak melihatmu sekecil satu titik pun? Ketika aku melihat bahasa non verbal mu, aku sangat yakin jawabannya pun TIDAK. Semua itu membuat aku bingung, membuat aku kecewa, sedih, atau bahkan marah pada diriku sendiri. karena bodohnya aku yang ngga bisa menunjukan itu semua. entah kenapa..
Aku hanya bisa terdiam dan memperhatikan gerak-gerikmu ketika berada tepat dihadapanku, tanpa aku bisa berkutik banyak. aku bingung harus apa. dan aku hanya merasakan canggung yang tidak dapat aku kendalikan. Ketika aku mulai berani bergerak, akupun tidak kuat bertahan dalam beberapa menit. Jantungku terlalu berdegup kencang ketika ada satu jengkal saja disamping kamu. dan membuat seolah semua didekatku menjadi beku seperti es.
OMG....aku harus apa? aku harus berbuat apa supaya ia mengerti dengan keadaan kritisnya perasaanku ini? atau aku harus melupakan semuanya? meski pasti membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Aku butuh jawaban sebagaimana Engkau berikan sebuah mimpi waktu lalu, Tuhan. Berikan aku mimpi sekali atau dua kali lagi untuk meyakinkan diri ini.
Sekali lagi yang aku pikirkan adalah aku bukan takut untuk "bersaing merebut tiket film box office saat pertama kali keluar" tapi aku takut "kehabisan tiket itu" ... Aku sadar, diri ku ini mungkin tidak akan pernah ada tempat dihidup kamu, tapi kamu, akan selalu ada tempat disini... dihidup aku, dan disetiap cerita-ceritaku, sampai kapanpun (sampai aku selesai dengan ceritamu).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar