Senin, 29 Juli 2013

Baca Deh.. Serius. Setitik Ilmu, Sejuta Makna :)

Bismillahirahmanirahim.. Satu doa yang gue panjatkan kali ini untuk tulisan gue. Malam ini memang rasanya sangat membuat nafsu untuk menulis gue sedang memuncak, banyak hal yang sebenarnya ingin dituangkan. Sangking banyaknya, gue bingung mau yang mana duluan, awalnya gue ingin menulis tentang sesuatu, tetapi diperjalanan pulang buka bersama bareng teman SMA, gue mendapatkan setitik ilmu, sejuta makna... Apasih itu?

Sebuah percakapan kecil antara gue dan Rani tentang masa depan. Tentang siapakah yang akan menjadi pasangan kita kelak? Tentang akan jadi apakah kita kelak? Dan bagaimana kah untuk menjawab itu semua?. Begini, awalnya gue bertanya sama Rani.

'Ran, pernah kepikiran ngga sih buat nikah muda?' entah kenapa gue pengin aja nanya seperti itu.

'Heh.. apaan sih ngomongnya' mungkin Rani berfikir gue mikirnya kemana- mana dengan menanyakan hal seperti itu.

'Ih engga serius, cuma nanya, habis sering kan teman kita nikah muda gitu, berkeluarga, dsb'

'Iya kepikiran sih, kenapa emang?'

'Oh kalau gue kenapa ngga kepikiran ya Ran? Bukannya mau nikah tua atau gimana juga, tapi buat gue hal yang menjadi prioritas gue adalah sukses menjadi 'orang' dulu baru memikirkan demikian' gue jawab dengan santai.

'Iya sih Dhit, dijaman kaya gini mending kita sukses dulu aja, banggain orang tua. Lo kan satu-satunya kebanggaan dan kesayangan bokap lo (nyokap juga, dominan sih bokap), ya lo harus buat mereka bangga' sekiranya begitu Rani bilang.

'Tapi Ran, gue kadang takut sama yang namanya pernikahan. Kalau dari pengalaman gue aja, baru pacaran udah putus. Gimana nanti kalau udah menikah? Gimana nanti kalau cerai? Kalau cowok mah ngga keliatan, tapi cewek? Dan sementara, nikah itu kan alangkah baiknya cuma satu kali...' gue membalas.

Dan gue benar-benar dapat ilmu disini. Rani menjawab....

'Nih Dhit ya, gue kasih tau. Kalau kita orang baik, pasti dapat orang baik. Jadi sebenarnya Jodoh itu ada ditangan manusia itu sendiri, Allah cuma menyediakan cowok baik, cowok jelek. Dan Allah itu hanya mengatur kelahiran dan kematian. Sama kaya menggapai sebuah tujuan, semua prosesnya tergantung sama manusia itu sendiri'

(Cowok Jelek disini, bukan fisiknya, tapi akhlakNya)

'Dulu gue percaya kalau orang yang menikah itu artinya jodoh. Tapi sebenarnya belum tentu' begitulah tambahan Rani.

Dengan rasa penasaran dan masih ngga ngudeng, gue tanya, Maksudnya Ran?

'Jadi tuh, orang-orang yang bercerai, sama Allah sudah ditentukan. Ada kalanya Allah mengikuti apa yang kita inginkan, tapi suatu saat, kitalah yang harus mendengar kata-kata Allah dengan cerai itu'

Gue tambah ngga ngerti apa maksud Rani, sekali lagi dia menjelaskan dengan studi kasus dan gue pun menyimak.

'Jadi misalnya, gue cewek nggak baik, mendapatkan cowok yang ngga baik juga, ngga pernah doa, ngga pernah bersyukur, dan minta petunjuk Allah,alias cinta buta. ya Allah juga gamau lah ngasih petunjuk, dan Allah cuma mengiyakan / mengikuti keinginan gue untuk nikah sama cowok itu. Tapi suatu saat kita yang harus mendengar kata-kata Allah, ya dengan cerai itu. Apapun masalahnya'

'Makanya, selama kita proses mencari dan memilah mana orang yang baik buat kita, kita harus berdoa dan meminta petunjuk, biar nantinya kita dapat yang baik. Sehingga Allah tidak menurunkan kata 'cerai' pada kita kelak'

'Sebenarnya ngga cuma itu juga, mau ngelupain orang pun, intinya kita harus berdoa dan meminta petunjuk, percaya kalau kita baik, pasti bakal dapat orang yang baik' dan kalau misalnya orang yang kita inginkan menjauh atau sama makna, ya berarti orang itu ngga baik buat kita'

Gue pun tertegun dan mencoba mencerna untuk selalu diterapkan dalam hidup gue.

'Oh itu ya Ran, percaya pada qada dan qadr'

'Iya bener Dhit'

Begitulah percakapan singkat antara gue dan Rani disaat rasa dalam diri ini ngga tenang, Allah selalu memberikan jawaban atas pertanyaan yang gue pertanyakan meskipun lewat perantara yaitu Rani. Dan semoga ini bisa menambah pengetahuan bagi orang lain.
Gue lupa nanya Rani tau darimana, yang jelas, gue yakin dia berkata apa adanya. 
(Rani - Mahasiswi UHAMKA - Matematika)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar